Jakarta – Departemen Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) dilaporkan menjual cadangan mata uang euro untuk membantu menopang nilai tukar yen Jepang tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB). Langkah tersebut dinilai tidak biasa karena menyimpang dari praktik koordinasi yang selama puluhan tahun dilakukan antarbank sentral negara-negara Barat.
Menurut laporan media internasional, ECB baru mengetahui aksi intervensi tersebut setelah transaksi selesai dilakukan. Presiden ECB Christine Lagarde dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent disebut baru membahas langkah tersebut sehari setelah New York Federal Reserve mengeksekusi penjualan euro atas nama US Treasury.
Keputusan menggunakan cadangan euro dinilai sebagai strategi untuk menghindari sinyal negatif terhadap kebijakan strong dollar yang selama ini diusung pemerintah AS. Dengan menjual euro, Washington dapat membantu memperkuat yen tanpa harus melepas dolar AS secara langsung.
Sejumlah analis juga menilai intervensi ini berkaitan dengan kekhawatiran bahwa Jepang dapat mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah AS (US Treasury) apabila tekanan terhadap yen terus berlanjut. Selain itu, pelemahan yen dinilai mulai mengganggu stabilitas pasar keuangan dan meningkatkan risiko di pasar global.
Langkah sepihak tersebut memicu perhatian di kalangan pejabat ECB. Beberapa sumber menyebut tindakan Washington sebagai penyimpangan dari tradisi koordinasi yang selama ini menjadi dasar intervensi pasar valuta asing antarnegara maju.
Meski demikian, juru bicara Departemen Keuangan AS menegaskan bahwa keputusan penggunaan Exchange Stabilization Fund (ESF) sepenuhnya berada di bawah kewenangan US Treasury dengan mempertimbangkan kondisi likuiditas pasar, valuasi aset, serta masukan dari Federal Reserve.
Dampak intervensi tersebut langsung terlihat di pasar valuta asing. Nilai tukar yen menguat dari sekitar ¥164 per dolar AS menjadi ¥158 per dolar AS, sementara pasar saham Jepang hanya mengalami tekanan terbatas.
Pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 44% bagi Bank of Japan (BoJ) untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September mendatang. Gubernur BoJ Kazuo Ueda sebelumnya juga telah mengingatkan bahwa tekanan inflasi masih menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan baru mengenai pola kerja sama antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dalam menghadapi gejolak pasar valuta asing. Sejumlah pengamat menilai langkah tersebut dapat menjadi sinyal perubahan pendekatan Washington terhadap kebijakan intervensi mata uang di masa mendatang.
