Jakarta – Uber semakin serius mengembangkan layanan taksi tanpa pengemudi. Perusahaan ride-hailing asal Amerika Serikat tersebut menggandeng perusahaan kendaraan otonom asal China, Pony.ai, untuk mengoperasikan hingga 2.000 robotaxi di Eropa.

Kerja sama ini diumumkan pada Jumat dan tidak hanya menyasar Eropa. Uber dan Pony.ai juga berencana memperluas kemitraan mereka ke kawasan Timur Tengah.

Langkah tersebut menjadi bagian dari ambisi Uber untuk memperluas layanan kendaraan otonom secara global, di tengah persaingan yang semakin ketat antara perusahaan teknologi Amerika Serikat dan China.

Dari Zagreb ke Empat Kota Eropa

Uber dan Pony.ai sebelumnya telah meluncurkan layanan robotaxi komersial di Zagreb, Kroasia, pada akhir Maret 2026. Keduanya mengklaim layanan tersebut sebagai salah satu peluncuran robotaxi komersial pertama di Eropa.

Dalam tahap berikutnya, layanan robotaxi akan diperluas ke empat kota Eropa lainnya. Namun, kedua perusahaan belum mengungkapkan kota mana saja yang akan menjadi tujuan ekspansi maupun jadwal peluncurannya.

Target hingga 2.000 kendaraan menunjukkan bahwa Uber tidak sekadar melakukan uji coba teknologi. Perusahaan ingin membangun armada dalam skala besar agar layanan kendaraan tanpa pengemudi dapat beroperasi secara komersial.

Kenapa Jumlah Mobil Jadi Penting?

Dalam industri kendaraan otonom, jumlah armada bukan sekadar persoalan kapasitas layanan.

Semakin banyak kendaraan yang beroperasi, semakin banyak pula data yang dapat dikumpulkan dari berbagai kondisi jalan, lalu lintas, cuaca, hingga perilaku pengguna jalan. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk meningkatkan sistem pengemudian otonom sekaligus membantu perusahaan memenuhi persyaratan keselamatan dari regulator.

Armada yang lebih besar juga memungkinkan perusahaan meningkatkan efisiensi operasional dan membuat masyarakat semakin terbiasa menggunakan kendaraan tanpa pengemudi.

Uber Bersaing dengan Waymo dan Perusahaan China

Persaingan industri robotaxi saat ini semakin ramai.

Waymo, perusahaan kendaraan otonom yang didukung Alphabet, masih menjadi salah satu pemain terbesar secara global dengan sekitar 5.000 kendaraan. Perusahaan tersebut telah menguji layanan di London dan mulai mempersiapkan ekspansi lebih luas ke sejumlah negara Eropa.

Waymo juga tengah menjajaki pasar Jepang dan berkomunikasi dengan regulator di berbagai negara untuk mempersiapkan operasional robotaxi secara global.

Di sisi lain, perusahaan China seperti Baidu Apollo Go dan WeRide juga mulai memperluas pengujian kendaraan otonom ke Eropa.

Uber sendiri sudah bekerja sama dengan WeRide untuk mengembangkan layanan robotaxi di Madrid, Spanyol. Kedua perusahaan juga memiliki kemitraan di Abu Dhabi dan Dubai.

Selain itu, Uber telah menggandeng operator taksi lokal di Jepang untuk menguji layanan robotaxi di Tokyo.

Uber Ingin Jadi Platform Robotaxi Global

Bagi Uber, robotaxi bukan sekadar tambahan layanan. Perusahaan ingin menjadi penghubung utama antara operator kendaraan otonom dengan pengguna.

CEO Uber Dara Khosrowshahi sebelumnya mengatakan perusahaan ingin menjadi platform komersialisasi kendaraan otonom terkemuka di dunia.

Strategi tersebut memungkinkan Uber memanfaatkan jaringan pengguna dan infrastrukturnya, sementara teknologi kendaraan otonom dikembangkan oleh mitra seperti Pony.ai, Waymo, dan WeRide.

Uber juga melihat data sebagai bagian penting dari strategi tersebut. Semakin banyak robotaxi beroperasi melalui platformnya, semakin besar pula data operasional yang dapat dikumpulkan dan digunakan bersama para mitra untuk mempercepat pengembangan teknologi kendaraan otonom.

Dengan target 2.000 robotaxi di Eropa, kerja sama dengan Pony.ai menjadi salah satu langkah terbesar Uber untuk membawa kendaraan tanpa pengemudi dari tahap uji coba menuju penggunaan komersial dalam skala yang lebih luas.