Jakarta – MetaMask resmi meluncurkan Agent Wallet, dompet kripto berbasis self-custody yang memungkinkan agen kecerdasan buatan (AI) melakukan transaksi on-chain secara otomatis sesuai batasan yang ditentukan pengguna.
Dompet ini dirancang untuk membantu trader dan pengembang memanfaatkan AI dalam memantau pasar, mencari peluang, hingga mengeksekusi transaksi tanpa harus memberikan akses penuh ke aset kripto.
Melalui Agent Wallet, pengguna dapat mengatur batas pengeluaran, memilih protokol yang diizinkan, menentukan tingkat risiko, serta memilih mode keamanan seperti Guard Mode atau Beast Mode yang menawarkan tingkat otomatisasi berbeda.
Agent Wallet mendukung berbagai platform AI, termasuk Claude Code, Codex, Cursor, OpenClaw, Hermes, dan OpenCode, serta kompatibel dengan jaringan Ethereum Virtual Machine (EVM) dan Hyperliquid.
Salah satu fitur unggulannya adalah gas abstraction, yang memungkinkan biaya transaksi dibayar menggunakan aset yang sedang ditransfer, sehingga pengguna tidak perlu memiliki token asli (native token) dari jaringan blockchain yang digunakan.
Dari sisi keamanan, MetaMask membekali Agent Wallet dengan simulasi transaksi, pemindaian ancaman (threat scanning), serta perlindungan terhadap Maximal Extractable Value (MEV). Selain itu, MetaMask juga menyediakan Transaction Protection hingga US$10.000 per bulan untuk transaksi yang memenuhi syarat namun tetap mengalami kerugian.
Peluncuran ini menjadi bagian dari persaingan industri kripto dalam menghadirkan infrastruktur bagi agen AI yang mampu mengelola portofolio, melakukan trading otomatis, dan berinteraksi dengan aplikasi terdesentralisasi (dApps). Sebelumnya, Coinbase telah memperkenalkan Agentic Wallet, sementara MoonPay mengembangkan platform MoonAgents untuk mendukung ekosistem AI di sektor kripto.
MetaMask menegaskan bahwa Agent Wallet mengusung pendekatan security-first, di mana agen AI hanya dapat bertindak sesuai aturan yang ditetapkan pengguna, sehingga kontrol penuh atas aset tetap berada di tangan pemilik dompet.